Home » » Tazkiyah (Bagian 2)

Tazkiyah (Bagian 2)



Pejuangpena.net- Ada tiga tahapan yang harus dilalui oleh seorang muslim yang ingin mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman hidup,
Tahap Pertama, Tazkiyah Melalui Pembersihan Akidah
            Seluruh isi al-Qur’an mengandung ajaran akidah yang lengkap, terdiri dari empat bagian:
1. Pemberitahuan tentang Allah subhanahu wata’ala, nama, dan sifat-Nya, bagian ini disebut dengan tauhid Asma’ was Shifat dan tauhid Rubbubiyah.
2. Ajakan agar penghambaan (ibadah) hanya kepada Allah subhanahu wata’ala semata, bagian ini disebut dengan tauhid Uluhiyyah.
3. Penjelasan tentang perintah dan larangan yang harus ditaati sebagai konsekuensi logis penerimaan tauhid, bagian ini disebut dengan hak-hak tauhid.
4. Keterangan positif tentang hasil yang akan diperoleh pelaku tauhid di dunia maupun di akhirat dan akibat buruk bagi yang menolak atau ragu-ragu terhadap tauhid di dunia, sebagai kesengsaraan dan di akhirat terancam dengan api Neraka.


Begitu bersih jiwa orang yang berakidah Islam yang benar sehingga dapat membuahkkan kebahagiaan setiap saat. Digambarkan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan sangat indah sekali dalam firman-Nya.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki mauppun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl: 97)
            Berbeda dengan orang yanng rusak akidahnya sepeerti umumnya pelaku kemusyrikan, Allah subhanahu wata’ala menyebut bahwa mereka berjiwa kotor.
“...sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis...” (QS. at-Taubah: 28)
Hal itu terjadi karena mereka banyak menzhalimi dirinya dengan tidak mengindahkan ajakan Sang Pencipta dirinya.
“...sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Lukman: 13)
            Akibatnya, mereka berjalan di atas kesesatan.
“Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat kesesatan yang jauh.” (QS. An-Nisaa’: 116)
            Disinilah rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencurahkan perhatian selama tiga belas tahun saat berada di Makkah menggembleng para sahabat agar akidahnya murni dari kesyirikan apapun bentuknya.
            Ibnul Qayyim menggambarkan keimanan mereka yang bersih itu dengan sangat indah. Mereka adalah manusia yang hatinya diliputi dengan pengenalan terhadap Allah subhanahu wata’ala sampai meluap rasa cintanya, rasa takut (khasyah), pengagungan, dan selalu merasa dikontrol oleh Allah subhanahu wata’ala (muraqabah). Rasa cintanya telah merasuki seluruh bagian tubuhnya bahkan masuk ke tulang sumsumnya, sampai pada tingkat melalaikan cinta selain dari pada-Nya.
            Tandanya, ia banyak mengingat dan menyebut Allah subhanahu wata’ala. Seluruh harapan dan ketakutannya ditujukan kepada-Nya, serta selalu bertawakal dan mengembalikan segala urusannya kepada Allah subhanahu wata’ala , setelah melalui berbagai upaya dan sebab yang dibenarkan. Tak jarang ia bertaubat dan tunduk patuh keharibaan-Nya. Apabila dia meletakkan punggungnya di pembaringannya, jiwanya melayang kehadirat Ilahi ssambil menyebut-nyebut nama dan sifat-sifat-Nya. Dia menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya telah menerangi cahaya hatinya. Badannya di atas tempat tidur, sementara jiwanya berwisata dan sujud di haribaan Rabb yang dia cintai, penuh khussu’ dan rendah hati. Hanya Allah jualah yang memenuhi seluruh kebutuhan manusia dan sekuruh makhluk. Allah yang mengampuni dosa para hamba-Nya, menyelesaikan segala persoalannya, membahagiakan orang sedih, menolong orang lemah, memberi kekayaan dan mencukupkan orang miskin. Dialah yang mematikan dan menghidupkan, membahagiakan dan mencelakakakan, menyesatkan dan memberi petunjuk, memberi kekayaan kepada segolongan manusia dan menjadikan miskin pada segolongan yang lain, mengangkat derajat kaum dan menghinakan kaum yang lain dan sebagainya.
            Begitu pentingnya akidah ini sehinggan harus kita peelajari secara global kemudian terinci dari sumber yang terpercaya. Ini masalah agama (din) tidak boleh kita ambil dari sembarang orang, tetapi harus dari yang terpercaya ilmu dan amalnya. Seperti sinyalemen Imam Malik dan Ibnu Sirin, “Ilmu agama ini, hendakny kamu ambil ilmu agamamu dari orang yang benar-benar kamu percayai.”
Tentunya, dalam kesempatan yang terbatas ini, kami tidak mengungkapkan poin-poin dalam akidah, tetapi sebatas pembuka dan perangsang agar diketahui hal tersebut.
Bersambung, in syaa Allah...
Referensi:
Farid Ahmad Okbah.2011.Hidup Hanya Sekali Jangan Salah Jalan. Jakarta: Perisai Qur’an. Hal: 57.
al-Qowarir

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda sangat diharapkan

Powered by Blogger.

Comments

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Random Posts